“Nggak terlalu serius kok! Biar namanya futsal nggak perlu banyak lari. Yang penting fun dan meramaikan Pra Reuni 35 Tahun SMANSA Bogor Angkatan 89“. begitu pesan yang disampaikan melalui WA grup alumni SMAN Satu Bogor
Memang, “futsal” imitasi, dengan pemain 3 orang, bola plastik, dan gawang yang terbuat dari meja kelas, merupakan bagian dari acara Pra Reuni yang diadakan tanggal 23 Nopember 2024. Tujuan utama dari acara ini adalah untuk pengambilan gambar, syuting, untuk video yang akan ditayangkan di puncak acaranya, Reuni 35 Tahun SMANSA Bogor Angkatan 89 yang bertema “Class Meeting”, Temu Kelas.
Entah sekarang masih ada atau tidak, tetapi pada tahun 1980-1990, setiap selesai tes semester atau ujian, waktu kosong akan diisi dengan pertandingan antar kelas. Pertandingan bisa berbentuk banyak hal, mulai dari sepakbola di lapangan basket, paduan suara, dan banyak lagi lainnya.
Intinya, bukan sebuah pertandingan yang serius. Apalagi mengingat usia para alumnus sekolah menengah atas yang katanya merupakan terbaik di Kota Hujan sudah melebihi angka 50. Penekanan pada kata santai, just for fun, atau tidak perlu berlari merupakan kata kunci untuk membujuk dan menjaring peserta.
Bagaimanapun, semua cukup sadar bahwa kondisi tubuh tidak lagi sebugar pada saat bersekolah di sana dulu. Jika dulu, bermain futsal seharian masih kuat, dengan kondisi sekarang bermain selama 10 menit sangat mungkin membuat pandangan tiba tiba menjadi buram dan lemas.
Jadi, para koordinator kelas pun sadar menawarkan sebuah olahraga “biasa” bisa menjadi sangat berat dan dipandang berbahaya bagi para anggota grup. Untuk itulah, penekanan pada kata “santai” “cuma 5 menit”, dan tidak perlu berlari menjadi andalan.

Kenyataan di lapangan bagaimana? Seperti biasa, teori tidak selalu sejalan dengan praktek. Begitu pula yang terjadi pada pertandingan “futsal-futsalan” dalam acara pra-reuni 23 Nopember yang lalu.
Kata-kata manis para koordinator kelas berbeda jauh dengan yang terjadi di lapangan.
Tidak ada pemain yang hanya berjalan atau bermain santai. Meskipun panitia mengatakan tidak ada kontak fisik, para pemain tetap saja tidak ragu untuk bertabrakan, melakukan sliding, atau yang biasa dilakukan dalam olahraga berebut bola itu.
Walau inti dari reuni adalah silaturahmi, tetapi, semua itu seperti terlupakan ketika wasit meniup peluit tanda pertandingan dimulai. Semua pemain dari 2 tim kelas, tidak ragu beradu kaki dan badan untuk berebut bola plastik yang susah diatur arahnya ketika ditendang. Semua berusaha menjaga agar gawang masing-masing.
Penontonnya pun, meski sudah hampir manula menurut UU di Indonesia, tiba-tiba menjadi muda lagi dan terus bersorak memberi dukungan kepada tim masing-masing.
Wasit pun harus menerima getah akibat saking semangatnya para calon manula dalam ber-futsal ria. Keputusan yang dianggap tidak adil pun diprotes dengan keras.
Tidak ada yang mau kalah, semua mau menang. Prinsip silaturahmi yang menekankan kebersamaan tidak berlaku dalam pertandingan kecil ini.

Untungnya, bagaimanapun, para alumnus SMANSA ini juga merupakan manusia dewasa. Terlepas dari siapa yang menang dan siapa yang kalah, begitu pertandingan usai, semuanya kembali seperti semula.
Cekakak cekikik, ledek-ledekan, dan tertawa mengingat momen saat bertanding terus terjadi bahkan setelah acara usai. Padahal, beberapa saat sebelumnya mereka berhadap-hadapan dan tidak mau saling mengalah.
Mungkin, itu adalah inti dari reuni, mengenang masa lalu, termasuk di dalamnya mengulang saat dimana jiwa kompetitif masih menguasai. Rasanya pasti akan datar saja kalau bertanding tanpa semangat “Menang itu Penting, Kalah itu Menyebalkan”.
Namun, dengan kesadaran bahwa jalinan persahabatan tidak boleh putus yang menjadi inti utama dari sebuah reuni.
Tanding 2×5 menit, capeknya seharian……pulang² kepala pusing langsung tidur
Sama dong bro.. saya juga ngalamin yang sama.. maklum.. dah uzur.. hahahahaha