Makanan dan Kenangan Indah Masa Lalu

Rapat panitia reuni selalu diramaikan dengan makanan yang dibawa masing2 panitia, himbauannya memang selalu potluck, tapi ada salah satu menu highlight yang menjadi perbincangan setiap kita selesai rapat, namanya ketan kuning!


Ini ketan kuning yang selalu dibawa oleh Dini Astriani… Dan cuma dia yang bisa bawa ketan ini, setiap kali ditanya, “Dini, beli dimana tuh ketannya?”. Jawabannya, biasanya sambil tersenyum manis, selalu sama, “Ada aja! nanti dikirim aja deh…” Dan kita semua cuma bisa saling pandang, kebingungan. Rasanya seperti ada rahasia yang disembunyikan di balik setiap butir ketan kuning yang datang dengan lapisan kelapa parut di atasnya.

Makanan memang punya kekuatan luar biasa untuk menghubungkan masa lalu dan kenangan.

Kalau kita bicara soal nostalgia masa SMA, ada satu makanan yang tak pernah terlupakan, si tahu slawi a la Gang Selot. Ah, siapa lulusan SMANSA Bogor tahun 1980-1990-an yang bisa lupa dengan tahu yang ditempel aci/sagu dan digoreng hingga renyah?

Walaupun begitu tahu itu mulai dingin, rasanya jadi aneh, seperti makan tahu yang ketempelan lem, hihihi. Tetap saja laris manis di kalangan para penghuni SMANSA. Mungkin “seperti ketempelan lem” itulah yang membuat tahu slawi itu begitu spesial.

Rasanya unik. Mungkin karena teksturnya yang aneh.

Sekarang, setiap kali mencicipinya, para jebolan SMANSA angkatan 89 seakan dibawa kembali ke zaman SMA, dengan segala kelucuan dan keisengan yang pernah kita lakukan bersama teman-teman.

Sampai sekarang, tahu slawi itu masih dijual di Gang Selot. Rasanya mungkin sudah sedikit berubah dibandingkan yang dulu, tetapi tetap selalu sukses menghadirkan kenangan masa lalu yang membuat banyak memori manis terlintas saat mengunyah si lengket ini.

Makanan selalu mengingatkan kita akan tempat dan waktu tertentu, menggali kenangan yang lama terkubur dan membangkitkan rasa yang tak bisa tergantikan. Seperti, si ketan kuning yang Dini bawa, atau tahu slawi yang jadi favorit kita saat masa SMA.

Makanan selalu menjadi saksi bisu perjalanan hidup kita. Meski waktu terus berlalu, setiap gigitan membawa kita ke masa lalu, seolah waktu berhenti sejenak, dan kita kembali duduk bersama, berbincang tentang hari-hari penuh tawa dan kebahagiaan.

(Penulis : Tri Trisdiyanti – Biologi 3 SMANSA BOGOR angkatan 1989)

Leave a Comment